Harga CPO

Harga CPO Bergerak Dinamis Didukung Beragam Sentimen Pasar Global

Harga CPO Bergerak Dinamis Didukung Beragam Sentimen Pasar Global
Harga CPO Bergerak Dinamis Didukung Beragam Sentimen Pasar Global

JAKARTA - Pergerakan harga Crude Palm Oil kembali menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan arah yang tidak seragam. 

Di tengah kombinasi sentimen eksternal dan faktor fundamental, harga CPO bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas. Dinamika ini mencerminkan tarik menarik antara tekanan pasar global dan dukungan permintaan utama.

Harga kontrak Crude Palm Oil di Bursa Malaysia Derivatives bergerak variatif pada Rabu. Pergerakan tersebut terdampak penurunan harga soybean oil di Chicago Board of Trade serta aksi ambil untung, meski tetap mendapat sokongan dari permintaan India dan harga minyak mentah global yang tinggi. Situasi ini membuat pelaku pasar bersikap hati-hati dalam mengambil posisi.

Berdasarkan data penutupan perdagangan, kontrak berjangka CPO untuk Maret 2026 naik 1 Ringgit Malaysia menjadi 4.018 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2026 melemah 2 Ringgit Malaysia menjadi 4.046 Ringgit Malaysia per ton. Pergerakan ini menunjukkan sentimen jangka pendek yang masih beragam.

Pergerakan Kontrak Berjangka CPO

Kontrak berjangka CPO Mei 2026 tercatat stabil di 4.053 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka CPO Juni 2026 turun 1 Ringgit Malaysia menjadi 4.053 Ringgit Malaysia per ton. Perubahan tipis ini menggambarkan pasar yang cenderung menunggu arah baru.

Kontrak berjangka CPO Juli 2026 melemah 4 Ringgit Malaysia menjadi 4.048 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak berjangka CPO Agustus 2026 turun 8 Ringgit Malaysia menjadi 4.041 Ringgit Malaysia per ton. Tekanan ini memperlihatkan adanya aksi ambil untung setelah reli harga sebelumnya.

Harga CPO terdampak penurunan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade dan aksi ambil untung setelah reli tajam dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan harga soybean oil memberikan tekanan psikologis terhadap pasar CPO. Korelasi antar komoditas nabati tersebut menjadi faktor utama dalam pembentukan harga.

Tekanan Eksternal dan Aksi Profit-Taking

Trader proprietary dari Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menjelaskan bahwa pelemahan soybean oil memberi tekanan langsung pada CPO. “Trader melakukan profit-taking setelah lonjakan tajam di pasar soybean oil,” ujar Ng. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa aksi ambil untung menjadi pemicu utama fluktuasi harga.

Menurut Ng, para pedagang memilih mengamankan keuntungan dari kenaikan harga sebelumnya. Strategi ini lazim terjadi setelah pasar mengalami reli signifikan dalam waktu singkat. Akibatnya, tekanan jual meningkat meski fundamental jangka pendek masih relatif kuat.

Meski demikian, Ng menambahkan bahwa produksi CPO yang melambat seperti terindikasi dari survei perkebunan dapat memberikan dukungan harga dalam waktu dekat. Ia memperkirakan harga CPO akan tetap terjaga di atas 4.000 Ringgit Malaysia per ton. Level resistensi diperkirakan berada di 4.150 Ringgit Malaysia per ton.

Prospek Permintaan dan Dukungan Global

Laporan dari TradingView menyebutkan bahwa permintaan dari India diperkirakan pulih pada 2026. India merupakan pembeli CPO terbesar dunia dengan potensi impor mencapai 800.000 ton seiring harga yang lebih kompetitif. Proyeksi ini menjadi sentimen positif bagi pasar.

Selain faktor permintaan, harga minyak mentah global yang berada di level tertinggi dalam beberapa bulan turut menopang sentimen CPO. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan penghasil energi berkontribusi pada penguatan harga minyak. Kondisi tersebut secara tidak langsung memberi dukungan terhadap harga minyak sawit.

Di dalam negeri, Malaysian Palm Oil Council memperkirakan harga CPO akan berkonsolidasi pada kisaran 4.000 hingga 4.300 Ringgit Malaysia per ton pada Maret. Proyeksi ini mencerminkan keyakinan bahwa harga tetap berada di rentang stabil. Namun, ruang kenaikan dinilai masih terbatas.

Tantangan Ekspor dan Pasokan Global

Potensi kenaikan harga tertahan oleh kekhawatiran terhadap ekspor yang lesu meski memasuki bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri. 

Momentum musiman biasanya meningkatkan permintaan, namun kali ini pasar masih menghadapi tekanan eksternal. Pelaku industri tetap mencermati perkembangan pengiriman dalam beberapa pekan mendatang.

Data survei kargo menunjukkan pengiriman CPO periode 1–20 Februari turun antara 8,9% hingga 12,6% dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini menjadi sinyal perlambatan arus ekspor yang memengaruhi sentimen harga. Tekanan tambahan juga datang dari pasokan soybean global yang melimpah.

Meningkatnya ekspor soybean oil dari China turut memberikan tekanan kompetitif terhadap CPO. Melimpahnya pasokan alternatif minyak nabati membuat persaingan semakin ketat di pasar global. Dengan berbagai sentimen tersebut, harga CPO bergerak dinamis namun tetap menunjukkan daya tahan di atas level psikologis penting.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index