JAKARTA — Prospek PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) dinilai tetap menjanjikan di tengah laju percepatan transformasi digital, ekspansi jaringan 5G, serta melambungnya permintaan layanan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan komputasi awan (cloud computing).
Kondisi tersebut diproyeksikan menjadi katalis pendorong pertumbuhan bagi emiten penyedia infrastruktur penunjang telekomunikasi tersebut.
Pengamat Pasar Modal Fauzan Luthsa menilai melonjaknya perhatian investor terhadap saham BACH tidak sekadar didorong oleh prospek industri, tetapi juga manuver masuknya Grup Djarum lewat PT Global Teknologi Perkasa (GTP) selaku pemegang saham pengendali perseroan.
"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh," ujarnya dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Fauzan, selama ini sebagian pelaku pasar lebih mengenal BACH sebatas perusahaan penyedia genset. Padahal, merujuk pada prospektus perseroan, BACH telah mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi sehingga memegang posisi strategis dalam ekosistem infrastruktur telekomunikasi nasional.
"Perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi. Artinya, BACH sudah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi," katanya.
Ia menganggap pergeseran persepsi investor terhadap model bisnis perseroan menjadi salah satu elemen yang memicu minat pasar terhadap saham BACH. Kendati demikian, dalam jangka panjang kinerja fundamental tetap menjadi faktor utama yang menentukan nilai valuasi perseroan.
Pengamat CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menyampaikan bahwa peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih terbuka lebar dalam kurun 3 hingga 5 tahun mendatang.
Menurutnya, kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi maupun jaringan serat optik (fiber optic) tetap tinggi seiring melesatnya permintaan dari segmen pelanggan ritel maupun korporasi.
"Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optik masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," ujarnya.
Ia memaparkan transisi dari jaringan 4G menuju 5G bakal memperbesar kebutuhan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Berbeda dari teknologi terdahulu, implementasi 5G memerlukan kerapatan menara yang lebih tinggi melalui penambahan microcells guna menjaga kualitas jaringan.
Selain itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus peluang investasi bagi entitas penyedia infrastruktur telekomunikasi.
Menurut Dipo, pemenuhan infrastruktur dasar seperti pasokan daya listrik, menara telekomunikasi, jaringan serat optik hingga kabel bawah laut masih akan terus bertambah. Tren ini turut dipicu oleh masifnya penggunaan internet, AI, dan layanan cloud computing.
"Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," katanya.
Ia mengimbuhi, pasokan listrik yang belum sepenuhnya stabil serta jaringan fiber optic yang belum terintegrasi secara merata di sejumlah daerah menjadikan peran perusahaan pendukung telekomunikasi semakin krusial.
"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," tegasnya.
Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menuturkan bahwa keandalan sistem kelistrikan menjadi fondasi paling mendasar dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).
"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," ujarnya.
Ian menerangkan sistem catu daya BTS umumnya menerapkan konsep redundansi untuk menjaga keberlanjutan layanan.
Skema tersebut dapat berupa kombinasi pasokan listrik dari PLN dengan genset cadangan maupun perpaduan PLN, baterai, dan genset sehingga operasional BTS tetap berfungsi saat terjadi gangguan listrik.