Harga Tiket Pesawat Dikaji Pemerintah Agar Sesuai Dengan Keseimbangan Ekonomi

Jumat, 27 Februari 2026 | 15:36:24 WIB
Harga Tiket Pesawat Dikaji Pemerintah Agar Sesuai Dengan Keseimbangan Ekonomi

JAKARTA - Kementerian Perhubungan terus mengevaluasi tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB) tiket pesawat domestik di Indonesia. 

Proses evaluasi ini bertujuan menjaga keseimbangan harga antara maskapai dan penumpang. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa proses masih berlangsung dan belum ada keputusan final.

“Prosesnya masih berjalan terus dan kami masih mengevaluasi komponen avtur atau fuel surcharge,” ujarnya. Pemerintah ingin memastikan tarif tiket tetap adil dan tidak memberatkan penumpang maupun operator. Penyesuaian ini diharapkan bisa meningkatkan efisiensi operasional maskapai sekaligus kenyamanan perjalanan domestik.

Kebijakan TBA dan TBB diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan untuk mencegah perang harga yang merugikan. Aturan ini melindungi maskapai dari kerugian sekaligus menjaga tiket tidak terlalu mahal saat high season. Evaluasi yang dilakukan pemerintah akan mempertimbangkan berbagai komponen biaya dan dinamika pasar.

Ketentuan Tarif dan Contohnya

Sebagai acuan, rute Denpasar—Jakarta memiliki batas bawah harga tiket Rp501.000 per orang dan batas atas Rp1.431.000 untuk kelas ekonomi. 

Sementara rute Jakarta—Timika ditetapkan mulai dari Rp1.412.000 hingga maksimal Rp4.034.000 per penumpang. Ketentuan ini diterapkan untuk menstabilkan harga dan menghindari fluktuasi yang merugikan penumpang maupun maskapai.

Lukman menekankan, revisi TBA-TBB harus dilakukan hati-hati agar tidak memicu gejolak harga baru. Pemerintah masih mempertimbangkan masukan dari pelaku industri penerbangan. “Sampai saat ini masih kami evaluasi dan prosesnya berjalan terus,” tambahnya.

Penerapan TBA-TBB yang tepat dapat menjaga persaingan sehat antarmaskapai. Dengan demikian, maskapai dapat menyesuaikan strategi harga tanpa merugikan operasional. Penumpang juga mendapat kepastian harga yang wajar untuk rute domestik.

Dampak Kebijakan pada Maskapai

Kebijakan TBA-TBB dinilai turut menjadi penghambat pemulihan maskapai domestik. Beberapa rute yang tidak menguntungkan dievaluasi ulang oleh maskapai. Hal ini membuat mereka mempertimbangkan rute internasional yang tidak dibatasi TBA.

Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, menuturkan bahwa aturan TBA membuat maskapai sulit meraih keuntungan maksimal. 

Maskapai terpaksa menjual tiket off-peak season dengan harga tinggi, tetapi tetap tidak menutup kerugian pada peak season. “Ini berdampak pada sulitnya maskapai Indonesia termasuk Garuda, untuk bisa pulih dari dampak finansial selama pandemi Covid-19,” ujarnya.

Selain itu, keterbatasan fleksibilitas harga membuat maskapai menghadapi tekanan finansial. Beberapa maskapai menunda ekspansi rute domestik yang potensial. Evaluasi TBA-TBB diharapkan memberikan ruang bagi maskapai untuk menyesuaikan strategi harga.

Harapan Pemulihan Penerbangan Domestik

Pemerintah berharap revisi TBA-TBB dapat mendorong pertumbuhan sektor penerbangan domestik. Fleksibilitas harga diharapkan memberi peluang bagi maskapai meningkatkan kapasitas dan efisiensi. Penumpang juga diuntungkan karena bisa menikmati harga tiket yang kompetitif sepanjang tahun.

Lukman menegaskan, setiap penyesuaian tetap memperhatikan keseimbangan antara kepentingan maskapai dan penumpang. Evaluasi melibatkan analisis biaya operasional, biaya avtur, dan tren permintaan pasar. “Kami ingin kebijakan yang diambil memberi manfaat maksimal bagi seluruh pihak,” katanya.

Evaluasi ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memulihkan industri penerbangan domestik. Dengan kondisi yang lebih stabil, maskapai bisa lebih fokus pada layanan dan ekspansi. Penumpang pun mendapat pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan terjangkau.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meski evaluasi TBA-TBB terus berjalan, pemerintah harus menghadapi tantangan dinamika ekonomi dan harga avtur global. Perubahan harga bahan bakar, fluktuasi kurs, dan permintaan pasar menjadi faktor penting. Maskapai diharapkan dapat menyesuaikan strategi bisnis agar tetap kompetitif.

Gerry menekankan, revisi TBA-TBB perlu memberi fleksibilitas bagi maskapai untuk menutup biaya operasional. Jika aturan terlalu ketat, pemulihan penerbangan domestik akan terhambat. Namun, dengan kebijakan yang tepat, pemerintah bisa mendorong pertumbuhan pasar domestik sekaligus melindungi konsumen.

Evaluasi TBA-TBB juga memberi peluang bagi maskapai untuk meningkatkan layanan dan menjangkau lebih banyak rute. Penyesuaian ini diharapkan mendorong persaingan sehat dan inovasi dalam industri penerbangan domestik. Dengan begitu, sektor ini bisa tumbuh lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi ekonomi nasional.

Evaluasi TBA-TBB

Evaluasi TBA-TBB yang sedang berlangsung mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan industri dan perlindungan penumpang. 

Tarif yang tepat akan memungkinkan maskapai memaksimalkan keuntungan sekaligus memberi harga wajar bagi penumpang. Percakapan antara pejabat dan pengamat menunjukkan pentingnya keseimbangan antara fleksibilitas dan regulasi.

Dengan kebijakan yang bijak, sektor penerbangan domestik berpotensi pulih lebih cepat. Penumpang dapat menikmati layanan dengan harga kompetitif dan maskapai bisa meningkatkan kinerja. Pemerintah tetap memantau evaluasi ini agar setiap keputusan memberi manfaat bagi seluruh pihak terkait.

Terkini