Petani Aceh Tamiang Tanam Timun Suri untuk Pulihkan Ekonomi Pasca Banjir

Jumat, 06 Maret 2026 | 10:20:29 WIB
Petani Aceh Tamiang Tanam Timun Suri untuk Pulihkan Ekonomi Pasca Banjir

JAKARTA - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah pertanian sempat memukul aktivitas ekonomi warga.

Banyak lahan perkebunan terendam air dan lumpur sehingga tidak dapat digunakan untuk menanam komoditas seperti biasanya. Kondisi ini memaksa para petani mencari alternatif tanaman yang bisa memberikan hasil lebih cepat.

Di tengah situasi tersebut, timun suri menjadi pilihan utama bagi sebagian petani di Desa Rantau Panjang. Tanaman yang identik dengan bulan Ramadhan ini dianggap mampu membantu memulihkan pendapatan warga. Selain masa tanamnya relatif singkat, permintaan pasar terhadap komoditas ini juga cukup tinggi.

Para petani Desa Rantau Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang akhirnya memilih menanam timun suri. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memulihkan ekonomi setelah wilayah mereka terdampak banjir. Tanaman tersebut diharapkan dapat memberikan hasil yang cepat sekaligus membantu kebutuhan masyarakat selama Ramadhan.

Upaya Petani Bangkit Setelah Banjir

Bagi para petani setempat, menanam timun suri menjadi strategi bertahan di tengah kondisi sulit. Setelah lahan pertanian mereka sempat lumpuh akibat banjir, tanaman ini menjadi harapan baru untuk kembali mendapatkan penghasilan. Keputusan tersebut diambil karena timun suri dinilai mudah dibudidayakan dan cepat dipanen.

Salah seorang petani timun suri di Rantau Panjang, Alfarizi, mengungkapkan bahwa tanaman ini kini menjadi andalan bagi para petani di desanya. Ia menyebut komoditas tersebut mampu membantu pemulihan ekonomi keluarga. “Ini menjadi andalan satu-satunya untuk pemulihan ekonomi. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan,” kata Alfarizi.

Komoditas yang identik dengan bulan Ramadhan ini menjadi tumpuan baru warga desa. Setelah banjir merendam lahan perkebunan mereka, sebagian besar tanaman sebelumnya tidak dapat diselamatkan. Karena itu, timun suri dipilih sebagai alternatif yang paling memungkinkan untuk ditanam kembali.

Keputusan menanam timun suri juga dipengaruhi oleh kebutuhan pasar yang meningkat. Selama bulan Ramadhan, buah ini sering digunakan sebagai bahan minuman segar. Hal tersebut membuat permintaan di pasar biasanya meningkat dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Dengan peluang pasar yang cukup besar, para petani melihat kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Mereka berharap hasil panen dapat membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Tanaman ini pun menjadi simbol semangat warga untuk bangkit dari dampak bencana.

Strategi Cepat Memulai Tanaman Baru

Alfarizi mengatakan bahwa ia memulai penanaman timun suri tidak lama setelah banjir surut. Ia mengambil langkah tersebut hanya dua minggu setelah air mulai menghilang dari lahan pertanian. Keputusan ini dilakukan agar ia tetap memiliki sumber penghasilan.

Rizi menjelaskan bahwa langkah cepat tersebut merupakan strategi untuk menghadapi masa sulit. Jika menunggu terlalu lama, maka kesempatan panen selama Ramadhan bisa terlewat. Oleh karena itu, ia langsung mengolah kembali lahan yang sebelumnya terendam banjir.

Menurutnya, keuntungan menanam timun suri tahun ini juga dipengaruhi oleh jumlah petani yang menanam. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah petani yang menanam komoditas ini justru menurun. Kondisi tersebut membuat persaingan di pasar menjadi lebih kecil.

Di desanya tercatat hanya sekitar tujuh orang yang menggarap lahan timun suri. Angka ini jauh berkurang dibandingkan masa sebelumnya ketika hampir seluruh warga menanam tanaman yang sama. Padahal kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra timun kapur di Aceh Tamiang.

Kondisi tersebut secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi para petani yang masih menanam. Pasokan yang terbatas membuat harga jual relatif stabil di pasaran. Hal ini tentu memberikan harapan baru bagi para petani yang sedang berusaha bangkit.

Harga Stabil dan Permintaan Tinggi di Pasar

Selain jumlah petani yang berkurang, kondisi pasar juga turut memengaruhi harga timun suri. Kelangkaan komoditas ini membuat harga jual di tingkat petani relatif stabil sejak awal Ramadhan. Situasi tersebut memberi peluang bagi petani untuk memperoleh keuntungan yang lebih baik.

Untuk ukuran besar dan sedang, timun suri dijual sekitar Rp10 ribu per buah. Sementara ukuran kecil dijual sekitar Rp6.000 per buahnya. Harga tersebut dianggap cukup menguntungkan bagi para petani di desa tersebut.

“Biasanya kalau ramai yang tanam, satu biji bisa jatuh ke harga Rp2.500. Sekarang permintaan tinggi dan kami langsung memasoknya ke agen di Kota Langsa,” katanya.

Permintaan yang tinggi membuat hasil panen dapat langsung terserap pasar. Para petani tidak perlu menunggu lama untuk menjual hasil kebun mereka. Bahkan sebagian besar panen langsung dibeli oleh agen untuk dipasarkan kembali.

Kondisi ini memberikan harapan baru bagi para petani yang sebelumnya terdampak banjir. Mereka dapat kembali memperoleh penghasilan dari lahan pertanian. Komoditas timun suri pun menjadi salah satu sumber ekonomi penting bagi warga.

Tantangan Perawatan di Tengah Cuaca Panas

Meski memberikan peluang ekonomi, menanam timun suri bukan tanpa tantangan. Proses perawatan tanaman tetap membutuhkan perhatian khusus. Hal ini terutama berkaitan dengan kondisi cuaca yang cukup panas.

Rizi mengaku menggarap lahan seluas sembilan rante atau sekitar 3.600 meter persegi. Namun karena keterbatasan tenaga dan cuaca panas, ia hanya mampu merawat secara maksimal sekitar setengah dari luas lahan tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para petani.

Perawatan tanaman harus dilakukan secara rutin agar hasilnya optimal. Ia menyiram tanaman setiap pagi sejak awal masa tanam. Selain itu, pemupukan juga dilakukan secara berkala setiap empat hari sekali.

Langkah tersebut penting untuk mengendalikan hama sekaligus menjaga kesuburan tanaman. Tanpa perawatan yang baik, tanaman bisa mati akibat kekeringan. Oleh karena itu, petani harus bekerja lebih keras selama masa pertumbuhan tanaman.

“Kendalanya cuaca panas, jadi harus disiram terus tiap pagi. Kalau tidak, semak dan hama luar biasa sulit dikendalikan,” ujarnya.

Harapan Panen Hingga Menjelang Idul Fitri

Saat ini tanaman timun suri yang ditanam mulai menunjukkan hasil. Dalam satu minggu, Rizi dapat melakukan panen sebanyak dua kali. Biasanya proses panen dilakukan setiap tiga hari sekali.

Sistem penjualan dilakukan berdasarkan jumlah buah yang dipanen. Buah-buah tersebut kemudian dijual langsung kepada agen. Dengan cara ini, petani dapat memperoleh pemasukan secara rutin selama masa panen.

Petani muda ini memprediksi masa panen timun suri miliknya akan berlangsung hingga menjelang Idul Fitri. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi keluarganya. Hasil panen tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi para petani di Desa Rantau Panjang, timun suri bukan hanya sekadar tanaman musiman. Komoditas ini menjadi simbol kebangkitan setelah mereka menghadapi bencana banjir. Semangat untuk kembali bertani menjadi bukti ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Terkini