JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan peran penting Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dalam memperkuat transformasi ekonomi nasional.
Menurutnya, FEB harus menjadi katalis yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan analitik guna mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.
“FEB harus menjadi katalis yang menghubungkan ilmu, kebijakan, dan analitik untuk mendukung transformasi ekonomi nasional,” ujarnya. Komitmen ini disampaikan dalam Kongres Ke-13 Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Mendiktisaintek menekankan bahwa FEB memiliki posisi strategis dalam membangun kampus yang mandiri, inovatif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Peran strategis ini juga mencakup pengembangan riset, inovasi kebijakan, dan kolaborasi dengan dunia usaha serta pemerintah daerah.
Kampus Mandiri dan Inovatif sebagai Lokomotif Pembangunan
Brian Yuliarto menambahkan bahwa keberadaan FEB yang kuat akan menghasilkan kampus yang lebih mandiri dan inovatif. Fakultas ini diharapkan mampu melahirkan model-model baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal maupun nasional.
“Kami ingin menegaskan peran FEB, yang kuat akan menciptakan kampus yang lebih mandiri, lebih inovatif, dan lebih berdampak. Ke depan, harus dilihat sebagai perspektif strategis bagi kita semua,” katanya.
Ia mendorong FEB meningkatkan ruang investasi, memperkuat kiprah akademik, serta mengembangkan model-model yang mampu menumbuhkan ekonomi lokal dan nasional.
Selain itu, Mendiktisaintek menekankan pentingnya pembangunan pariwisata yang inklusif dan berbasis pengetahuan ilmiah sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi nasional. Dengan riset kebijakan publik yang matang, kampus dapat menjadi lokomotif pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.
Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah untuk Pembangunan Daerah
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal menyoroti pentingnya sinergi antara akademisi dan pemerintah. Kolaborasi ini dianggap kunci untuk mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan dan inklusif.
“Sekarang eranya kolaborasi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali telah sepakat untuk memperkuat integrasi pariwisata, energi, dan konektivitas. Sinergi inilah yang menjadi fondasi percepatan pembangunan kawasan,” jelas Iqbal.
Kolaborasi ini diharapkan mempercepat pembangunan infrastruktur dan ekonomi lokal melalui perencanaan yang berbasis penelitian akademik.
Keterlibatan akademisi dalam pembangunan daerah tidak hanya membantu perumusan kebijakan, tetapi juga membuka peluang inovasi dan investasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. FEB, sebagai pusat pendidikan dan riset ekonomi, berperan penting dalam mewujudkan integrasi ini.
FEB dan Pariwisata Berkelanjutan di NTB
Kongres AFEBI yang mengusung tema “Kampus Berdampak untuk Akselerasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan” menjadi ajang strategis bagi pemimpin FEB di seluruh Indonesia untuk membahas kontribusi akademisi dalam pembangunan ekonomi daerah.
Fokus utama terletak pada pengembangan pariwisata berkelanjutan, yang menjadi kekuatan utama Provinsi NTB.
Dalam kongres tersebut, para dekan, pengelola program studi, akademisi, dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi berdiskusi mengenai strategi inovatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata.
Diskusi ini mencakup penerapan riset akademik untuk meningkatkan kualitas layanan pariwisata, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan jejaring antara kampus, pemerintah, dan industri.
FEB diharapkan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga motor penggerak pembangunan ekonomi nasional melalui inovasi, kolaborasi, dan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah dan sinergi daerah, fakultas ini mampu memainkan peran sentral dalam memperkuat ekonomi lokal dan nasional, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.