Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.022/USD Terdorong Data Ekonomi AS

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:33:02 WIB
Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp18.022 per Dolar AS pada Akhir Juli [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengakhiri sesi perdagangan Jumat (31/7/2026) di zona hijau pada posisi Rp18.022 per dolar Amerika Serikat (AS). Lonjakan mata uang Garuda beriringan dengan melesunya nilai tukar dolar AS yang tertekan oleh serangkaian rilis indikator ekonomi Negeri Paman Sam di bawah estimasi pasar.

Merujuk pada kalkulasi Doo Financial Futures, rupiah ditutup menguat sebesar 0,49% menuju level Rp18.022. Selain rupiah, tren apresiasi terhadap dolar AS juga melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Penguatan tertinggi atas dolar AS diraih oleh peso Filipina dan dolar Taiwan yang sama-sama terangkat 0,50%, mengekor rupee India yang naik 0,28%, serta baht Thailand yang terkatut 0,19%.

Selanjutnya, yuan China bergerak naik 0,07%, ringgit Malaysia menguat 0,06%, dan dolar Hong Kong terangkat 0,03% terhadap dolar AS.

Di lain pihak, beberapa mata uang Asia justru berada di jalur koreksi. Depresiasi terdalam dialami oleh won Korea yang tergerus 0,50%, disusul yen Jepang yang melemah 0,48%.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan bahwasanya penguatan rupiah berbanding lurus dengan pergerakan mayoritas mata uang regional Asia yang menguat terhadap dolar AS. 

Sentimen penggerak pasar utama masih didominasi oleh faktor eksternal, khususnya menguatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) usai sejumlah data ekonomi AS memperlihatkan perambatan.

Koreksi pada dolar AS dipicu oleh performa data ekonomi AS yang mengecewakan dalam beberapa hari belakangan. Kondisi tersebut mendorong para pemodal kembali menakar peluang pelonggaran moneter oleh bank sentral AS dalam kurun beberapa bulan mendatang.

"Rupiah dan mata uang regional umumnya menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi cukup tajam oleh data ekonomi yang mengecewakan semalam," ujar Lukman.

Walau begitu, dinamika pergerakan pasar masih dibayangi ketidakpastian global. Selain spekulasi arah suku bunga The Fed, investor turut memantau eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang berisiko memantik volatilitas harga komoditas energi sekaligus mendongkrak minat pada aset safe haven, termasuk dolar AS.

Dari ranah domestik, sorotan pelaku pasar masih tertuju pada pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI).

 Investor mencermati figur yang bakal mengemban amanah sebagai Gubernur BI selanjutnya, mengingat peran strategis bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar maupun tingkat inflasi.

Menurut pandangan Lukman, volatilitas rupiah berpotensi meningkat pada pekan depan berhubung pasar bakal dibanjiri serangkaian data ekonomi krusial dari Indonesia, AS, dan China.

Dari AS, pemodal menantikan data sektor manufaktur dan jasa, laporan lowongan kerja JOLTS, serta data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) yang menjadi barometer utama kesehatan ekonomi AS. 

Sementara dari China, pelaku pasar mencermati rilis data manufaktur dan sektor jasa guna memperoleh gambaran terkini mengenai kekuatan pemulihan ekonomi negara tersebut.

Adapun dari dalam negeri, jajaran data penting yang dijadwalkan rilis meliputi neraca perdagangan, laju inflasi, indeks manufaktur, hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2026.

Menghadapi transaksi pekan depan, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak cukup fluktuatif pada rentang kisaran level Rp17.850 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Terkini